KAMPUNG SEDERHANA YANG SANGAT BERHARGA.

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh......
Perkenalkan namaku Syahrul Ramadan, aku anak pertama dari tiga bersaudara dan semuanya lanang, aku lahir dikampung yang indah,sejuk,damai,dan penuh dengan solidaritas. aku tinggal dirumah bersama orang tua dan saudara-saudaraku , dirumah yang sangat sederhana dan penuh dengan kesan dan makna. Namun dirumah inilah aku dibesarkan dan didik agar bisa tumbuh dengan karakter yang baik, berbakti kepada orang tua, dan berlaku sopan santun dalam berkomunikasi/bersosialisasi baik dengan teman sebaya maupun dengan orang lain. Dan dirumah ini pula aku diajarkan kedisiplinan waktu agar bisa menghargai setiap waktu yang digunakan dan menggunakan waktu sebaik mungkin karena "Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotongnya maka dia akan memotongmu" begitulah pepatah mengatakannya.
Beginilah keadaan dirumah yang dipenuhi anak laki-laki nakal yang selalu bikin ulah dan pasti tidak pernah ada diamnya. Dirumah ini setiap harinya selalu terdengar suara canda, tawa, tangis (karena dimarah), bahkan sering terjadi pertempuran antara ketiga kubu tersebut. Yah walaupun sering terjadi keributan dirumah, tetapi hal semacam itulah yang dirindukan ketika dewasa kelak atau bepergian jauh. Mungkin cukup sampai disini untuk perkenalanku.

"Kampung halamanku" kalian ingin tau dimana kampung halamanku, kampungku di provinsi Kalimantan barat, kabupaten Kubu Raya, desa Kuala Ambawang, jl. Trans Kalimantan, Gg. Budaya No.44. Membicarakan masalah kampung halaman , pasti kita akan ber-nostalgia dengan pengalaman-pengalaman semasa kecil, sama sepertiku yang mempunyai beribu kisah, dikampungku sering terjadi banjir diawal bulan Desember,faktornya ialah karena adanya pembuangan sampah di sungai. Pada saat itu teman-teman ku mengajak ku bermain banjir, dikarenakan aku sedang meriang, jadi aku hanya bisa melihatnya bermain air dari jendela, betapa inginnya diri ini untuk bermain banjir bersama teman-teman.
Dan besoknya jiwa ku meronta-ronta untuk bermain banjir, aku pun bergegas menuju teman-temanku yang berada diatas air, sontak badanku pun jadi tidak meriang lagi dong, kami pun memulai untuk mencari batang pohon sagu untuk dijadikan kapal supaya lebih asyik menemani kami saat bermain banjir, didalam hutan ketika air banjir kami mencari sagu dan menebangnya, ketika hendak mematahkannya aku dan teman-temanku menemui sesosok ular, sontak kami pun bergegas untuk lari dengan berbagai ekspresi ada yang tertawa, panikan,dan nangis. Setelah berhasil melarikan sebatang pohon sagu kami pun membuat nya,dari meraut hingga membentuk seperti kapal, dahulu kegiatan ini rutin kami kerjakan ketika banjir melanda kampung kami, hingga sekarang adik-adik pun meneruskannya, "maka dari itu kita harus menjaga keindahan alam dikampung kita, karena disini kita mendapatkan segalanya, dari hal kecil/besar, suka dan duka, canda dan tawa yang telah diberikan untuk kita agar kita bisa menikmatinya".

Singkat cerita, saya akhiri..... Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.